Komunitas Anak Dayak Maanyan (KOMANDAN) jln. Nansarunai RT.V, dabung (depan RSUD Tamiang Layang), Kabupaten Barito Timur, contact personne : (ebbi)+6285249537058, PIN BB 27011fe5 (Alfirdaus) +621351946584 e-mail komandan_maanyan@yahoo.com komandanmaanyan@gmail.com

Jumat, 06 Mei 2016

Tanuhui Asal Mula Hukum Adat Paju X

Tanuhui Tuan Panayar Dengan Putiri Bungsu

Tuan Panayar dengan istrinya Putiri Bungsu sudah lama hidup sebagai pasangan suami istri, hingga mempunyai seorang anak bernama Riak Mangulung.Pada suatu ketika Tuan Panayar ingin berlayar ke seberanguntuk mencari nafkah bagi anak dan istrinya. Ketika Tuan Panayar ingin berangkat dia telah menyiapkan berbagaikeperluan untuk dibawa berupa kayu bakar, beras, dan air minum untuk kebutuhan selama tiga bulan. Sesaat sebelum berangkat ia sempat berpesan kepada istri dan anaknya, katanya: “Istri dan anakku, jangan keluar rumah selama aku belum pulang. Kalau ingin melakukan sesuatu, semua sudah disiapkan dan tersedia namun bila ada tamu datang jangan sekali-kali membuka pintu rumah karena kamu tidak kenal apakah orang itu baik atau tidak.” Lalu jawab istrinya: “Baiklah suamiku, dan aku berharap supaya kamu juga selalu setia dan tidak mengkhianati aku istrimu dan anakmu.”
Maka keesokan harinya Tuan Panayar berangkat sambil menitikkan airmata ia mencium anak dan istrinya sambil mengucapkan selamat tinggal lalu melangkah pergi sampai ke perahu di tepian sungai tempat permandian mereka. Setelah pergi lebih kurang satu satu bulan lamanya ia berniat untuk pulang namun ternyata air sungai surut hingga ia tidak bisa pulang. Selama 4 bulan lamanya musim kemarau, selama itu pula ia tidak dapat pulang ke rumah untuk bertemu dengan anak dan istri yang ia cintai.
Satu bulan setelah kepergian Tuan Panayar terjadilah suatu kejadian yang tidak diduga-duga. Ketika Putiri Bungsu dan anaknya yang tinggalberdua di rumah, mereka dikunjungi seorang gadis yang sangat cantik bernama Antu Paku, yang kecantikannya sangat luarbiasa sehinggabisa diungkapkan dengan kata berikut:“Lunu Mate Andrau Saitu.”Artinya mata hari saat tengah haripun akan redup karena kecantikan gadis itu.  Saat itu gadis itu mengetuk pintu ingin masuk ke dalam rumah namun Putiri Bungsu menjawab: “Maaf saya tidak bisa membuka pintu karena rumah ini dikunci suamiku, Tuan Panayar!” Namun dari siang sampai malam gadis itu tetap memaksa untuk membuka pintu dan jendela untuk masuk ke dalam rumah. Sampai suatu ketika Putiri Bungsu tidak dapat lagi menahan kencing tapi kemanapun ia pergi selalu diikuti gadis yang berada di luar sana. Karena Antu Paku melihat kemaluan Putiri Bungsu maka dengan tergesa-gesa Putiri Bungsu naik ke atas dapur (rapuan) untuk kencing.
Setelah air kencingnya turun jatuh ke tanah sesuatu yang aneh terjadi, air kencing tadi berubah menjadi akar (wakai pike). Maka dari akar itulah Antu Paku naik dan masuk ke dalam rumah dan akhirnya mereka pun bersahabat.
Selama satu minggu sampai satu bulan mereka bersahabat baik bahkan sudah seliur seludah, sedarah sedaging karena begitu dekatnya mereka, sampai suatu ketika Antu Paku memohon kepada Putiri minta diayunkan di depan pintu masuk. Putiri Bungsu pun mengayun Antu Paku tepat di muka pintu masuk, dari hari pertama, kedua, dan ketiga kadang-kadang Antu Paku tertidur, namun pada hari keempat Antu paku berkata: “Kita bergantian.” Tapi jawab Putiri Bungsu “Aku tidak berani” Namun Antu Paku terus memaksa sampai akhirnya Putiri merasa bosan karena terus dipaksa iapun mengiyakan keinginan Antu Paku. Putiri Bungsu pun mempersiapkan pakaiannya dan pakaian anaknya kemudian beras satu mangkuk (erang mangkuk), telur satu biji, lading(pisau) satu bilah. Maka Putiri Bungsu berkata pada Antu Paku: “Ayolah ayunkan aku bersama anakku, aku rela pergi dari rumah ini dan engkau menduduki rumahku dengan Tuan Panayar asalkan aku dan anakku selamat sampai seumur jaman.”
Mereka pun mulai diayunkan oleh Antu Paku dari pagi sampai siang terus menjelang petang semakin keras dan semakin keras ayunan Antu Paku, dan ternyata tali ayunan itu tiba-tiba putus dan Putiri Bungsu tidak sadar akan hal itu. Katanya kepada anaknya “Dimana kita anakku?” sambil menangis terisak-isak dan hari sudah semakin gelap yang terlihat hanyalah bintang-bintang.
Tiba-tiba datanglah seekor burung dan berkata kepada mereka: “Siapa kalian dan mengapa kalian ada di tempatku?” lalu Putiri Bungsu menjawab: “Aku dan anakku tersiksa oleh karena ulah Antu Paku karena ia berniat jahat ingin menduduki rumahku sedang suamiku Tuan Panayar saat ini sedang pergi.” Lalu burung itu bertanya kembali: “Berapa lama suamimu sudah pergi meninggalkan kalian dan kapankah ia akan kembali?” Kemudian Putiri Bungsu menjawab, katanya: “Suamiku sudah pergi berbulan-bulan dan tidak dapat dipastikan kapan ia akan kembali.” Lalu jawab burung itu: “Baiklah kalau demikian, tinggalah kalian berama saya di sini. Hanya beras dengan telur yang ada kami simpan sementara sampai suamimu datang dan kalian pasti akan pulang. Kalau makan dan minum kita sama-sama berdoa agar hidup kita di dunia ini mendapatbanyak rejeki.” Putiri Bungsu pun bertanya: “Dimanakah aku dan anakku tinggal sekarang ini?” Jawab sang burung tadi: “Jangan kuatir kita sekarang berada di atas Mahlegai. Cuma hati-hati jangan banyakbergerak takut kalau-kalau terjatuh.”
Sudah sekitar lima bulan lamanya mereka tinggal bersama-sama dengan sang burung di puncak Mahlegai, dan pada suatu waktu terdengar suara sorak-sorai, suara gong dan gendang serta terlihat tari-tarian dari siang hari sampai malam hari tidak berkesudahan.  Mendengar hal itu Riak Mangulung berkata kepada ibunya: “Bu, besok akan turun ingin melihat kegiatan yang dilakukan orang-orang itu.” Namun sang ibu melarang keinginan  anaknya. Dari hari pertama sampai hari kedua keinginan itu diungkapkan anaknya tapi masih saja ditegur ibunya, namun pada hari ketiga sang anak tidak mengindahkan larangan ibunya, sehingga anaknya tetap berkeras ingin turun melihat apa yang dilakukan orang-orang di bawah sana. Lalu ibunya berkata “Dengan jalan apa engkau hendak turun, Nak?” Dan sang anak menjawab: “Saya akan turun menggunakan tangga, Bu!” Kemudian ia mengambil lading dari ibunya.
Pagi-pagi setelah makan dan minum maka Riak Mangulung menyiapkan pakaian seraya berkata pada ibunya: “Ibu, saya akan turun sekarang...” Lalu sang ibu menjawab: “Hati-hati, ya anakku!” Riak Mangulung pun beranjak turun, sambil menjatuhkan lading ke bawah dan seketika itu juga muncul tangga yang sampai ke bawah lalu ia pun turun pelan-pelan dan sesampainya di bawah ia pun serta merta mengikuti arah orang banyak pergi.
Setelah ia melihat kegiatan tersebut serta mendengar bunyi gong, gendang serta melihat tari Giring-Giring dan tari Bahalai, ternyata hanya dengan melihat ia langsung bisa melakukan tari-tarian tersebut. Selain itu ketika melihat ke belakang ada banyak sekali orang, ada manguntur(gelanggang sabung ayam), ada butur buyang dadu, maka ia pun ingin mencoba ikut bermain karena sewaktu turun dari Mahlegai ia diberi satu keping uang perak. Pertama kali ia ikut memasang ternyata menang, sehingga setiap kali ia memasang diikuti oleh orang banyak. Dari pagi sampai sore ia telah bermain judi ternyata ia menang banyak sekali, dari satu keping uang perak menjadi dua ratusan keping uang perak.
Saat hari sudah hampir gelap ia beranjak untuk kembali pulang, sesampainya di pohon Mahlegai ia segera melempar lading yang ia bawa ke atas maka segera muncul tangga menuju ke atas dan ia segera naik. Sesampainya di atas ia segera memanggil ibunya sambil berkata bahwa ia sangat beruntung hari ini. Ibunya bersyukur mendengar perkataan anaknya.
Keesokan harinya Riak Mangulung turun lagi namun kali ini ia turun membawa ayam jago yang diberikan oleh burung yang tinggal di atas Mahlegai, lalu seperti biasa dengan mujizat ia menjatuhkan lading ke bawah, maka muncullah tangga yang menuju ke bawah dan turunlah perlahan-lahan sehingga Riak Mangulungpun sampai ke tempat kegiatan yang kemarin ia datangi. Setelah sampai  di tempat kegiatan tersebut orang-orang melihat kepada Riak Mangulung yang membawa seekor ayam jago, lalu dengan segera orang-orang mengajak untuk adu ayam namun Riak Mangulung berkata bahwa tidak memiliki taji tapi ada yang menawarkan untuk menggunakan taji yang orang itu miliki. Setelah itu terjadilah adu ayam yang mengundang hiruk-pikuk orang-orang. Ada yang berteriak: “Tidak akan lama lagi sudah...” dari dalam gelanggang lalu seketika terdengar riuh teriakan kemenangan dari orang banyak, ternyata ayam jago yang dibawa Riak Mangulung yang menang. Dan hal itu terjadi terus-menerus, ayam jago yang dibawa Riak Mangulung selalu saja menang. Karena hal tersebut terjadi terus-menerus, beberapa orang nampak sangat emosi karena selalu kalah sehingga Riak Mangulung pun mohon diri untuk istirahat pulang. Setelah malam hari Riak Mangulung kembali turun melihat orang-orang bermain Butur Buyang Dadu, dan iapun mengikuti pasangan-pasangan orang ternyata ia selalu menang dan tak pernah kalah. Saat malam semakin larut ia pun beranjak untuk kembali pulang dengan membawa kemenangan.
Keesokan harinya saat hari sudah siang, Riak Mangulung mengatakan pada ibunya kalau ia mau turun ke tempat kegiatan dengan membawa ayam jago lagi, namun ibunya berkata: “Ingat Nak, tidak seterusnya bisa menang karena ada waktunya pasti bisa kalah...” tetapi sang anak tidak mempedulikan teguran ibunya dan iapun kembali turun dengan membawa ayam jago untuk diadu, dan lagi-lagi ayam itu selalu menang. Tetapi setelah ia keluar dari tempat kegiatan, ia dikelilingi orang banyak dan serempak mereka menyergap dan menangkap Riak Mangulung. Uang yang ada semuanya dirampas, sedang Riak Mangulung disekap dan dimasukkan ke dalam kandang besi bersama ayam jagonya.Ia disekap dari sore hari sampai dini hari keesokan harinya, dan pada dini harinya ayam jago yang dibawa Riak Mangulung pun berkokok dengan berbunyi demikian:

“Adui Inung! Adui Inung! Adui Apang! Adui Apang! Inungku Putiri Bungsu... Bapangku Putera Layar... Ngaranku Riak Mangulung... Hayamku Tabur Banua...”

Berulang-ulang ayam tersebut berkokok demikian, sehingga datanglah seorang yang bernama Putra Layar dengan mengundang beberapa keluarga untuk mengeluarkan Riak Mangulung beserta ayamnya dari tempat tersebut. Putra Layar pun bertanya: “Jelaskan riwayatmu dan dimana ibumu berada?” Sambil menangis terisak Riak Mangulung pun bercerita dengan menguraikan semua peristiwa yang terjadi terhadap dirinya dan sang ibu sehingga keadaannya seperti sekarang ini. Setelah mendengar cerita Riak Mangulung yang ternyata adalah anaknya, segera dimintanya keluarganya untuk menjemput ibu Riak Mangulung yang ternyata istrinya dari tempatnya sekarang yaitu di atas pohon Mahlegai agar mereka bisa kembali berkumpul.
Nampaknya kegiatan tetap berjalan dan sampai pada malam hari saat mereka berkumpul bersama, Putra Layar mengajak Antu Paku dan Putiri Bungsu untuk menari Giring-Giring dan dilanjutkan dengan tari Bahalai. Namun Antu Paku diajak menari makin ke tepi balai hingga ia terjatuh dan terinjak-injak oleh orang banyak dan meninggal.

Waktu pun telah berlalu, segala jenis kegiatan pun berakhir, Antu Paku sudah dikuburkan. Keluarga yang telah lama terpisah kembali berkumpul, kemudian mereka pulang dan berkumpul seperti dahulu lagi ke rumah mereka masing-masing.

Senin, 28 Desember 2015

TANUHUI (cerita) SEJARAH IJAME

TANUHUI SEJARAH IJAME

Sarita hingka ulun lagi muneng hang Bawutenung, ulun hang yaru pauweng lewu re’an rumah tangga, jaman tapi’an satarat pakarangan, muneng kapatah rateh riri, ka unan wakat, katayup amun uran, kira-kira lebih kurang rueh ribu taun sahu’an masehi. Sahingga biar ka’awe rama ulun lain hang Bawutenung  uras leteng tarung, timul tarung hi amah Kuruwenu pana’anak laki wawei.
Sahingga ineh Kuruwenu nyarita hanye ang uweng kakanen. Eaw ni amun kaina ada hanyu pana’anak emah, amun aku yiti tarime apen kureng diang dara nuntun sum’mu. Yalah paribahasa manre ang iyuh ele nganrei ang ule tunup. Sasat anri jiwa wawai lamagan patah hunang hiang ganta diwata. Kude amun puang, ang iyuh sangkuriung hingka wadik iwei (ngidam). Daya inun aku ka’eau kairu, daya hampe na upi na ulis ekat kakanen ku atei memai pasiung unru, ruang ulu ruang ukui. (Ulu ipaka rueh ukui ipaka rueh).
Oooohh..... eau amah Kuruwenu, amun sa kalahie elah aku mansuba namirang ngantara. Aku puang hawi amun ang uweng pamakulis. Balalu amah Kuruwenu natap : ia itawua ni jumaka tumaspara ni tampilak, nyumput petan baning purumata hadi kajang unru nyunrap. Nyame hanye ma tamelahan gilang sisip kinret, murumihik wuri hiang ngurumunai wuri nanyu. Nyaput hanye ma ipu sariren rede upak mapak jumutaun, siput sala sika mate, siput buah magin nanan taun. Balalu nyangkilat taruh aber pu’unan jatang janra nganyak anak, hala huwe hingka lunan hai erang ka umean, hala huwe hingka lanyung hai erang ka bantayan. Raru ma wu’uwa, huan hampe haut bilut. Raru ma tawuliun, huan hampe haut witus. Pagat mata tantang pitu muat diki ruyan lanyung.

Papuyan, tempat pembakaran/ pengkremasian tulang pada Ritual adat Ijame 

Balalu hanye tulak, nuntung ma pangumatung unrunalu wulan welum. Dami hanye tulak salenga ma’eau pukang : sir mulilik kadeneng dekut, sa awe muneng hang kayu uneng hang kayu, sa awe muneng hang wakai uneng hang wakai, sa awe muneng hang bungu tane uneng hang bungu tane. Ari hi amah Kuruwenu minau namirang. Balalu hanye tulak, kia karimingkang-mingkang kala ringkang puai kalu, kia kajumawuk-mawuk kala jawuk niui ganring, masuk ma luau bumang tane jangkang padang mamu, ma janah manjati juwuk padang nenek. Pas hampe ang ngarehe naan situa-tua, jauh maka naan memai pasiung unru.
Tane karu tane, balalu hi amah Kuruwenu kia alah karu alah paile papuser palus tawang kanyu. Balalu hi amah Kuruwenu tarie maharung mamikir ma awe sa na kia. Salenga dami hanye nyanrengei naan eau tanru manu, eau buhek iwek angit – angit. Ooohh.. kunu amah Kuruwenu ware aku nuju ma yaru aku nunti himat sa wat ulun hang yaru, ma awe na kia ku yati.
Dami hanye hampe salenga kitip ranu, balalu hang penah ranu yiru naan gusung hang yeru ulun barabiuh. Balalu naan tumpung haur gading jalur meteng anrau irapis anri kakau kudiwurung kayu muntei langit. Kunu amah Kuruwenu, nantau ulun rama barabiuh hang yaru. Ware aku nyubarang ma yaru, aku nunti hingka ulun yiru inun ngaran dunia yina ma’awe na kia ku. Balalu hanye nyubarang, iru maka wauh ulun nelang kai takut. Eau amah Kuruwenu, ada naun takut aku yiti hingka Bawutenung tawang manyumirang kanyu, ngampurunan welai nunti hingka naun, ma awe aku mudi, udi hie inun ngaran dunia yina nelang inun gawi naun. Dami hanye nantau ma kayaru salenga naan sarubung, hang wuang sarubung yiru penu kudit wu’ah. Balalu eau ulun hang yiti samula tumpuk natat kami. Terdiri hingka 8 (walu) Danau :
1.      Danau Pinang Habang
2.      Danau Kalapa
3.      Danau Tabak
4.      Danau Pamaungan
5.      Danau Untip
6.      Danau Damung
7.      Danau Merek
8.      Danau Sinamak
Pusat unengan yiti ngaran ni Danau Sinamak sebagai pusat tumpuk, balalu sebagai tanda luwan iri naan na amule ha’ur gading jalur meteng anrau baya kudiwuwung kayu muntei langit, balalu na antuh gusung Sinamak. Hampe itati masih naan tumpung haur gading ni.
Nah sa pagawian yina kami naan ka angkengan bangkai matei, balalu takut tumu kayu langar wakat balalu kami kai ijame. Nah nunturungan sa hanyu balalu kami hene maaf puang kaayuh magi waktu hingka penah kasibukan yina, ngatet hanyu nutui lalan kami puang tau tutui. Ekat ni hanyu muneng hang yati nampe gawian kami yina luput. Nunturungan ma kuta pakai nu, hanyu ada mahanang atei kami nangung.
Eau amah Kuruwenu, kaawe sa lawah gawian naun?. Ha eau here, gawian kami yina salawah sapuluh anrau sapuluh malem palus naan pamadi ni. Pamadi ni puang iyuh na ini na dinung, na sanrengei ulun lain. Balalu nunturungan hanyu yiti tapaksa kami nina, malan puang kami kadinung, karengei inun na gurayang na ulah na gawi kami. Eau amah Kuruwenu, hayu aku nganrei taduh gawi naun, udi hie tarima kasih naun miwit, aku puang kajuju kala’uan. Nah neu sa nina aku, ang maka usah, elahlah aku muneng hang yina. Kude aku jujur anri naun, naun tapaksa nyalumu aku makai tabing hantai balalu aku puang sagar ka’ini ka’rengei ka’dinung inun-inun na gawi naun. Amun naun puang nyalumu makai tabing hantai, walau ka’awe lawit dina naun sika tatap ini dinung rengei rasa ku.
persiapan di papuyan sesaat sebelum pembakaran tulang dimulai

Balalu eau ulun rama hang yiru, hayu mun kahie. Sadang luput salumu here, balalu dami amah Kuruwenu ninung ranu bagalumang luar biasa. Balalu ulun ka’eau, ari matu’eh hawi. Palus kaluar wu’ah luar biasa hante ni nelang janyawai. Tampek kubesau, ka’eau hunien aku jari wu’ah itati jari murunsia. Balalu palus nanan kudit, balalu ulun pangarubut nuwe kudit wu’ah yiru ma sarubung sa dinung amah Kuruwenu. Dami matu’eh yiru haut mamai, balalu ulun nyarita kawan hunien wangun here nyalumu amah Kuruwenu. Eau matu’eh yiru puang malu sika hanye haut puang ka’ini ka’dinung ka’rengei ka’rasa gawian takam. Ekat amun gawian takam haut luput, huyu hanye mamai kakau kudiwuwung kayu muntei langit yiru dan hanye huyu naun nanruhut rawen haur yiru baya haur rawen gading jalur meteng anrau yiru, balalu hamur ma ime nelang ipinai. Wuri anyan manyane tatai gilai biring manu nanyu kamulelu kuman wasi, laku luga lalan buka sadapa rupu tumang panutean. Hamur nadap pangumatung unru nalu wulan welum. Kala yiru eau matueh yiru, balalu ulun labuh gawi.
Lengan yiru amah Kuruwenu mahapal dan inun-inun turun tingkat gawian ulun salawah sapuluh anrau sapuluh malem yiru, hanye galis kadinung nelang hapal. Dami luput balalu ulun nguka amah Kuruwenu hingka salumuan nelang baganti bagilir ngenra eau “piris kempang welai-welai, amah Kuruwenu suni marumiuk daya tawang sa ngara’erai”.
Balalu eau amah Kuruwenu, aku haut na uka, gawian naun haut luput, dan mungkin aku pada ka’i mudi. Balalu sa hu’an takam bapisah amun puang padi nelang iuh eau naun, kaawe sa amun pada ngenra lagu perpisahan takam. Eau ulun rama yiru iyuh tu’u nelang puang padi. Balalu amah Kuruwenu ngenra, eau enra ni ; “Tuntun humang-humang tuntun humang hang sangkar weta, hi amah Kuruwenu nyame ma tariuk pantantang pakai nutu pungung buhaya rama”. Balalu ulun rama ipangulik-ipangulik palus rung nempat nuju sarubung nelang kaeau ; “tampek kubesau jukang kumala, hunien jari murunsia itati jari wu’ah” balalu masuk ma kudit masing-masing ilansar mitun mawuang ranu. Wu’ah rama yiru palus nanan humur humis inun-inun parakakas Ijame.
Balalu amah Kuruwenu segera mamai kakau Kudiwuwung kayu muntei langit, irapis anri tumpung haur gading jalur meteng anrau. Balalu nanruhut rawen ni nelang ipinai. Kala patitah Pamukah Kajang nye iru ngaran Raja Wuah hawi hingka Lubuk Santubung. Wuri anyan manyana ; tatai gilang hiang biring manu nanyu kamulelu kuman wasi, laku luga lalan buka sadapa rupu tumang panuteian.
Balalu hanye namur rawen ni nadap pangamatung unru nalu wulan welum. Balalu hanye minau, dami hampe hanye ikulik tu’u luga lalan na palupui lea enui natanrukayen. Balalu hanye ngumpul humur humis parakakas perlengkapan Ijame yiru, nuwe ma wuang keba kariring anrau tawang ia tau nyarau palus ngenei tulak. Sahingga puang lawit hanye takia balalu  hampe tumpuk isa bangaran  Batang Helang Ranu. Dami hampe yiru maka tahalu ulun rama nelang nunti pamakulis.
Balalu amah Kuruwenu nyarita perjalanan ni palus iwara pamakulis ni humur humis isa kapi’isa. Dami luput sarita amah Kuruwenu, ulun pada nyarita salawah tanan ni humur humis terutama kapateian Datu Burungan. Kala yeru sejarah asal usul Ijame.

kelengkapan Hukum Adat 


Catatan : sabujur ni ijame pertama kali kai na laksana hang batang helang ranu, na jame pertama kali panamakat hi datu burungan. Kira-kira rueh ribu taun sa huan masehi na tampalus daya paju epat khusus isa beragama hindu kaharingan hampe itati. Ekat ni daya naan kakurangen isa jenis kayu sahingga puang tau na laksana. Maka ni ulun kaeau ure gawe batang helang ranu pandrau kukan tane ganggang wunrung, puang tau labuh gawi ijame daya naan kakurangen balalu ure gawe. Balalu hang jaman sani sarunai lah pelaksanaan ijame sa lengkap palus ngamuan candi wat datu burungan.  

Damang Paju Epat pada saat ngisi hukum penulisan buku Hukum Adat

Na kisah daya Pangulu adat teka Balawa awuk penulisan buku Hukum Adat Kedamangan Paju Epat taun 2015...  hang wuang ngisah sajarah yina harus ngului hukum nelang pada ngantuh ngaran guru nerau here ngihau kakatuhen kawan guru ru nien.. penulis pada haut ngului hukum balalu na sameat palus ngawit nampan hang wuang penulisan ru mahi uweng inun2 hal sa puang patut... inti ni daya inun ngului hukum yiru daya kawan narasumber ngaluar katuluh katauen karasaen here hang kegiatan yiru.. (eB)

Jumat, 30 Oktober 2015

ADARO ETHNIC FESTIVAL "FESTIVAL KEANG" 2015


Hadiri dan ramaikan Pagelaran Tari Dayak Se Kalimantan dalam acara "ADARO KEANG ETHNIC FESTIVAL" yang akan dilaksanakan pada 30-31 oktober dan 01 nopember 2015 bertempat di Lewu Hante Desa Telang Siong, Kec. Paju Epat Kabupaten Barito Timur - Kalimantan Tengah. 
Lomba2 yg kami adakan :
1. Lomba Seni Tradisional (se- Paju Epat) dan Tangan Kreatif (se-Bartim)    CP. 082255448583 -Peno Vijarawan 
2. Lomba Band Ethnic (se-Bartim)              CP. 08125198140 - Indre hendratno
3. Lomba Fashion show ethnic (se-Bartim) CP. 085245294045 - Robert alexander
4. Lomba Fotografy (dibuka utk umum)      CP. 085248457510 - Dede almustaqim
5. Pagelaran Seni Tari (se- Kalimantan)     CP. 081348749949 - Lidya Kristina.


Sponsored by: PT. Adaro Indonesia
Presented by : Sanggar KOMANDAN (Komunitas Anak Dayak Maanyan)
Supported by : APERTUR dan ADWINDO Bartim.
seluruh masyarakat Desa Siong dan Telang...
explore our magical land of nansarunai....

Senin, 29 Juni 2015

Penganut Kaharingan yang meninggal

Tata Cara Pelaksanaan Kematian Kaharingan Paju Epat, sesaat setelah meninggal dunia.


Saat seorang yang beragama Kahariangan di Paju Epat meninggal maka yang pertama dilakukan pihak duka adalah memandikan jenazah, selesai dimandikan letakkan alas berupa tikar anihing(apabila ada) tetapi bila tidak ada boleh tikar yang lain. Pakaian lengkap dikenakan pada jenazah tersebut, setelah itu masukkan "lumiang panapen" ke dalam mulut jenazah. Iris kain dari 7 pakaian pelengkap yang pernah dipakai semasa hidupnya sebanyak 1 irisan tiap pakaiannya. Tawasan tutup hati diisi dengan 7 iris kain tadi, 7 manik lumiang ayat hidup panak, 1 butir telur ayam, tipak pisis giling pinang, sedikit uang lalu tawasan diletakkan di atas ulu hati mayat tersebut. Tangan mayat diletakkan di atas tawasan tersebut. jempol kanan diikat dengan jempol kiri, begitu pula jempol kaki, pergelangan tangan dan lutut juga di ikat. yang harus di ingat dipasangkan cincin "tunyuk hari" pada jari tengah. Dagu diikat sampai atas kepala dan kembali di ikatkan dibawah dagu. 7 iris kain pakaian tadi di gumpalkan untuk menutup lubang telinga kiri kanan dan lubang hidung, irisan kain diletakkan di atas mulut dan kedua mata, baru diletakkan koin ringgit(uang jaman dulu) diatasnya. apabila tidak ada bisa di gunakan koin yang lain.

Letakkan Bahalai(kain panjang) di atas mayat tadi, lalu kain Sinai Sarumang Mantel diletakkan dari arah pundak sebelah kanan ke arah pinggang sebelah kiri apabila yang meninggal adalah perempuan dan apabila laki-laki dari pundak kiri ke arah pinggang kanannya. Hal ini dilakukan karena Tabak Panganan diletakkan di sebelah kiri apabila perempuan dan Tabak Panganan di sebelah kanan apabila laki-laki.  Setelah itu kencangkan benang biasa dan benang nganyu. Apabila yang meninggal laki-laki keris dan mandau diletakkan sebagai cirinya. Setelah itu Dadining disiapkan ditelungkupkan, Hanram, lalangit dibuat dan di atur sedemikian rupa posisinya berada di atas mayat. jadinya seperti ruangan khusus tempat mayat tersebut berada.

Setelah tangan dicuci, barulah membunyikan gong yang tujuannya sebagai pertanda ada berita kematian.Gong dipukul sebanyak 3kali menghadap arah matahari terbit maksudnya untuk memberi tahu kepada Sang Penguasa Alam, ke arah matahari matahari terbenam maksudnya kepada roh-roh orang yang sudah meninggal terdahulu supaya dapat menemani/memangku roh orang yang baru meninggal tadi dan dipukul kearah kiri dan kanan yang bertujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat luas dan keluarga. Yang perempuan menangisi mayat tersebut, setelah semua selesai baru lah musyawarah dan mufakat untuk kelanjutan pelaksanaan pengurusan kematian hari selanjutnya. (eB)

Senin, 22 Juni 2015

Pandangan Adat tentang Polemik permainan LIO (adiau/arwah)

LIO yang artinya Adiau atau arwah, di Lawangan, Kampung Sapuluh dan Banua Lima di sebut dengan LIAU.
Dalam Kahiangan Wadian pada saat menyampaikan bahasa-bahasa ritual, ada beberapa kalimat yang menjadi referensi tentang mengapa adanya permainan LIO dalam proses Acara Ritual Kematian yang menurut hukum positif masuk ke dalam permainan judi. Sehingga permainan LIO ini menjadi suatu polemik yang belum mempunyai titik temu antara perspektif pandangan Adat dengan Aparat Penegak Hukum.
Adapun beberapa Kahiangan Wadian dan perspektif pandangan Adat:

  • KAPUPADU MATEI LULUHAN SUKAT LUMUN, HERE LIO MANANTULU ANRUWANEN MANUNTINEK LIO ITAK LIO KAKAH LIO DATU LIO NINI, LIO UMUN LIO PANAN LIO PADU MALULUHAN. Artinya: merupakan sebutan untuk Para Arwah yang telah mendahului kita, sanak family, keluarga dan leluhur,menghadap Tuhan.
Pandangan Adat : Permainan LIO hanya ada ketika upacara kematian, secara spontanitas ketika salah satu anggota keluarga ada yang meninggal sampai selesai penguburan, 7 hari, 40 hari, dan Upacara Ritual Ijame. Permainan LIO berlatang belakang dari orang Kaharingan yang saling berkaitan erat antara Adat dan Budaya serta Keyakinan Kepercayaan. Saling berkaitan dan tidak terpisahkan.
  • Pertanyaan Para Arwah pada saat perjalanan mereka di antar menuju sorga : INUN NGARAN ULUN KALA PUTUS KALA TINGKAH, KALA ARI KALA WIDI, KALA AMI KALA NGALAP, KALA BAYAR KALA TARIK, KALA JURUNG KALA HEPUT. Artinya : Para Arwah menanyakan apa yang dilakukan manusia diakhirat yang selalu tidak ada kepastian dan kesimpulan. di putuskan lalu dibatalkan kembali, dijual lalu di ambil kembali, dibeli ditarik kembali, didorong lalu ditarik kembali, tidak ada habis-habisnya. 
    • Jawaban KATINAWA NUNANG (Raja Adiau) yang mengiringi Para Wadian mengantarkan para arwah ke DATU TUNYUNG PULU GUHA MARI DANRA ULU (Sorga) : uuuuu..... ADA NAUN WAUH , YERU ADIAU ULUN MATEI MUNENG HANG UNENG PAMAINAN HAPUS PAMELUM NI. YERU PUANG IUH ALUT, HERE NA HUKUM DAYA HERE TAGINSIR LIO LABIH TEKA ATURAN ADAT. Artinya : uuuuu...... jangan heran karena itu arwah leluhur kita yang pada masa hidupnya selalu melakukan permainan judi sepanjang hidupnya yang melebihi aturan Adat Istiadat, sehingga mereka harus menanggung hukuman di akhirat nanti.
Pandangan Adat : Adat dan Agama melarang permainan LIO bukan pada tempatnya yang bersifat judi dan akan dikenakan pelanggaran dengan aturan Hukum Adat yang berlaku. Permainan LIO, WAJIB dilaksanakan karena ini sebagai simbol kelengkapan dalam Kahiangan. 
  • Kelengkapan Kahiangan : RARUBA RARAYUN, PANGUMA PANGUMUH, ETANG ANUI TUTUP MATE KUBUN WAWA SUPAL URUNG SEHENG SILU, KAWAN AMAS PAMUKAIAN MIRAH PANGUNRUTEN, WASI MANIK LUMIANG AYAT HIDUP PANAK, UTAS TUNYUK HARI, LEPET WUNUT RIMPU UME, MAKUTA MAUKAN KALA BAGI SIKAT KAWARIS, PANATAU PANUHAN, WEAH PAREI SASAP TANAMAN, KAYU KAYA JUMPUN HAKET, UMAT JAMAT MARGA SATUA, SIMBUL ULAH GAWI KIA KARAJA, IPURU MANYAWET, ANRAU IRAM SALUKI MATU, SUKUNG BANTU AWAT KARAWAH, HINRAI TAMIR TAMING DAHANG, SEPAK SINGKI BUTUR BUYANG
    • Penjelasan : Apapun yang kita miliki semasa hidup kita, kekayaan harta benda bahkan isi alam semesta serta keterampilan dan kemampuan aktifitas semasa hidup. baik buruknya akan disampaikan oleh Wadian dan persiapan serta kelengkapan lainnya di persiapkan oleh para Mantir dan Pisame. Apabila salah satu kelengkapan itu tidak dipenuhi maka akan terjadi Utang (denda adat) karena dalam Kahiangan Wadian tidak akan bisa melaksanakan dan menjalani Kahiangan apabila ada kekurangan dalam kelengkapan tersebut. 
Perspektif pandangan Adat secara umum :
Melihat dari sisi negatif bisa merusak Moral dan Etika, Norma-norma Agama, pelanggaran Hukum Adat, tatanan keluarga, rumah tangga, dan kehidupan bermasyarakat. Terlebih bertentangan dengan Hukum Positif yang berlaku di NKRI.
Namun secara keseluruhan, kearifan lokal yang selalu dipegang teguh masyarakat adat sangat tersirat dalam proses acara Ritual tersebut yang mana dalam prosesi kahiangannya menggambarkan penjelasan tentang perbedaan - perbedaan prilaku dan perbuatan manusia selama hidupnya. Pemahaman, keyakinan dan kepercayaan yang mengajarkan manusia mampu memilah mana yang baik dengan yang buruk dan mana yang benar dengan mana yang salah. Dari perkataan dan perbuatan akan dipertanggung jawabkan oleh manusia baik di dunia maupun akhirat.
Partisipasi dan kerjasama, saling menghargai dan menghormati, saling memberi dan menerima merupakan kearifan budaya lokal yang secara garis besar sangat jelas terlihat pada seluruh rangkaian acara mulai dari awal sampai berakhir. Sukung Bantu hinrai tamir, raruba raruyan panguma pangumuh, tantulu rariu merupakan pemberian semangat, ketabahan, kesabaran, kerelaan dan keikhlasan, memberikan kontribusi saran pemikiran perkataan, moril maupun materil kepada keluarga pelaksana acara kematian tersebut.  (di tulis oleh Damang Paju Epat, berdasarkan dengar pendapat dari tokoh-tokoh adat, mantir-mantir adat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan wadian pelaksana ritual. Selanjutnya disunting oleh eB)

Di satu sisi permainan LIO wajib dilaksanakan sebagai kelengkapan kahiangan, di sisi lainnya hukum positif NKRI memandang itu suatu pelanggaran hukum karena berbau judi. Tatanan dan tindakan yang tegas dalam aturan adat memungkinkan tidak adanya pelanggaran adat yang sengaja dibuat-buat mengatasnamakan adat. (eB)
  

Jumat, 19 Juni 2015

Paju Epat dalam perjalanan sejarah Hukum Adat dan silsilahnya

Lewu Hante di Kecamatan Paju Epat
SEJARAH HUKUM ADAT PAJU EPAT

Mulai alam wung wang dunia kaus kukus tane malumamak hena tipak silau, langit makumajang hena tipak daram.
Hindia belakang tane pitukangan kayu abun balas, pindah ke lalung kuwung banua langai langit. ke gunung madu dapa, gunung madu manyan, pupur parumatung, sida matung, tumpuk sigumpulan lilikumeah patah mulung sasuratan, 
Hindia muka, pindah ke batang helang ranu Banjarmasin Kayu Tangi, kemudian ke Sani Sarunai taliku ngamang talam di Daerah Amuntai, kemudian Candi Agung Candi Laras, Candi Mua Dangka Amu, Candi Munge Dangka Nangkai, Kupang sunung danau kien, Baras ruku tuntang alu, Bakumpai hanyar banua lawas, Danau halaman. 
Perpisahan Uria Pitu (7) ; Uria Pulang Jiwa ke Kapuas Kahayan, Uria Rena ke Kampung sepuluh banua lima, Uria Magal ke Paku Karau, Uria Birang ke Dayu, Uria Rantau ke Margasari, Uria Puneh ke Rayu Lawangan dan Uria Damung Napulangit ke Paju Epat.
Di Paju Epat : 
Uria Napulangit di Tampulangit, 
Patis Nalayuda di Bahanra, 
Singalanggawa ke Kaliwen,
Patis Wasa Gunting ke Renga, 
Jayang Panai ke Bangkungan
Patis Upus ke Sangal
Sota Baya ke Awang
Patingi Baris ke Telang
Damang Garip ke Siong
Singa Ganti ke Maipe
Bayan Tuha ke Kararat
Patis Mayung ke Balawa
Tamanggung Singanglangit ke Tutui
Tamanggung Jaga Ude ke Maijeng
Patis Mayung ke Murutuwu

Masing- masing membawa Hukum Adat yang telah diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun

Nama tokoh-tokoh terdahulu di Kaharingan Paju Epat :
  • Manusia Pertama Adam dan Hawa atau yang disebut dengan Kakah Warikung dan Itak Ayan,
  • kemudian Inang Ine, 
  • Etuh Mula Jadi, 
  • Kakah Rumpiang Agung, 
  • Itak Biso, 
  • Itak Mule, 
  • Idang Jawa, 
  • Datu Sigumpulan dan Dara Sigumpulan, 
  • Tuan Upu, 
  • Tuan Nune, 
  • Tuan Nyadi, 
  • Tuan Nyare, 
  • Tuan Nampa, 
  • Tuan Ragisik, 
  • Kapupadu Ape Luluhan Dayang Silu, 
  • Ape Tanru Manu, 
  • Ape Jalang Rahu, 
  • Ape Siangan Langit, 
  • Ape Kataningan Wawe, 
  • Ape Ngaduasa Pilu, 
  • Ape Iwulian Wawe, 
  • Ape Karengen, 
  • Ape Wadian Ame. 


Nama tokoh-tokoh di Hindia Belakang, Hindia Muka, di Watang Helang Ranu Banjarmasin Kayu Tangi dan di Sani Sarunai Taliku Ngamang Talam :
  • Datu Burungan
  • Umpit Wuyung
  • Tamiang Raja
  • Papantung Raja
  • Urah Raja
  • Kakati Raja
  • Wunsiang Raja
  • Patake Raja
  • Gumantar Wawei
  • Datu Puntahala Maleh
  • Damung Mantir Kaki
  • Datu Tataran Wulau
  • Datu Nuluh Wuman
  • Datu Bias Layar
  • Datu Dauh Langit
  • Datu Masialong
  • Datu Pujut Tatulisan
  • Datu Kamahing Langit
  • Damung Garinsingan
  • Damung Nyalawingan Apui
  • Damung Nyalawingan Ranu 
  • Damung Nyalawingan Tuwu
  • Nini Punyut
  • Mawunta Mula dan seterusnya sampai sekarang
"Acara Ritual Adat sangat identik dengan keyakinan dan kepercayaan yang mengandung unsur-unsur kesatuan persatuan dan kerukunan serta keharmonisan hubungan antara manusia dengan sang pencipta, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan alam." Damang Paju Epat, BATERIUS B.  (eB)


Jumat, 27 Maret 2015

Tabalong Ethnic Festival 2015

Penampilan Sanggar Seni dan Budaya "KOMANDAN" pada Tabalong Ethnic Festival IV
Tabalong Ethnic Festival IV merupakan festival budaya lokal Banjar dan Dayak yang diselenggarakan pada 11-14 Februari 2015 di Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan. Harmoni budaya banjar dan dayak ikut tampil dalam event yang bertema "Beauty of Tabalong" ini. Semua itu diwujudkan melalui karnaval, festival film budaya, panggung seni dan gelar budaya Dayak Deah Kampung Sepuluh.

Pada kesempatan ini, Sanggar Seni dan Budaya "KOMANDAN" (Komunitas Anak Dayak Ma'anyan) berkesempatan ikut serta meramaikan acara panggung seni. Bukan sebagai peserta, hanya menjadi salah  satu pengisi acara pada malam panggung seni.
Penampilan Sanggar Seni dan Budaya "KOMANDAN" pada Tabalong Ethnic Festival IV
Judul yang diangkat kali ini adalah "Alimu Pituah" yang artinya hmmmmmm......hmmmm.... penulis lupa hahahhahaa :p terserah ja. Penampilan berlangsung kurang lebih sepuluh menit, berbagai atraksi ditampilkan well cukup bersaing dengan atraksi menaiki batang berduri dari salah satu sanggar peserta.

 
salto dengan posisi tubuh setengah bulat let say it "half flexible somersault" terserah ku ja :p


Semoga sepanjang tahun 2015 ini masih banyak kegiatan yang dapat diikuti oleh Sanggar Seni dan Budaya KOMANDAN untuk tetap eksis melestarikan seni tari gelang bawo dan dadas. Amun Puang Takam Hie Lagi Kalau Bukan Kita Siapa Lagi. (bo)

nb.Bonus kostum Karnaval Budaya
Karya Veno Vijrawan Otodidak

Rabu, 03 Desember 2014

Renovasi Rumah Hantu KOMANDAN

Renovasi Rumah Hantu KOMANDAN.......
wadah pengorbitan Artis 3 seribu....

Pembersihan Lahan Sanggar

Pembangunan
tahap I beratap rumbia beralaskan tanah
Tahapan pertama mewujudkan mimpi Sanggar seni dan budaya KOMANDAN memiliki bangunan tempat berlatih sudah terwujud. Hal ini dapat terlaksana dengan bantuan berbagai pihak yang bersedia membantu we know who, dan bukan hanya berjanji  ehemmm... hemmmm... we know who.

Semenisasi :) renovasi I
Dindingnisasi :p renovasi I
Peningkatan kualitas bangunan juga atas sumbangsih pihak tertentu we know who juga lah, jadi para anggota sanggar tidak lagi berkutat dengan kaki2 kotor bila berlatih.

Penggantian atap Renovasi II
Renovasi II beratapkan Seng Sing Senggggg :)
Renovasi tahap kedua juga masih hasil sumbangsih pihak ketiga we know who and why, penggantian atap ini sangat tepat mengingat cuaca yang mulai masuk musim penghujan. Seluruh anggota dan pengurus sanggar seni dan budaya KOMANDAN sangat mensyukuri peningkatan dan perbaikan ini. Tidak lupa pula mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang membantu kemajuan sanggar KOMANDAN. 

Semoga kedepannya semakin banyak pihak yang bergabung untuk mendukung kemajuan sanggar KOMANDAN serta turut berperan serta menjaga dan melestarikan budaya dayak Maanyan.  
Amun Puang Takam Hie Lagi/ Kalau bukan Kita Siapa Lagi. Salam Budaya. (bo)

note : Untuk peningkatan fasilitas fisik selanjutnya mungkin lebih fokus kepada pemasangan aliran listrik, sebab tanpa penerangan seluruh aktifitas di sanggar ini terbatas hanya hingga matahari terbenam saja. Adapun mimpi yang lebih jauh memiliki lahan sendiri.

Rabu, 26 November 2014

BERBAGI

Berbagi, kalimat sederhana namun tidak semua orang mampu melakukannya dengan berbagai macam alasan. Malu mungkin atau merasa tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk dibagi namun sesungguhnya sekecil apapun hal yang kita bagi akan memiliki manfaat bagi orang yang menerimanya.
Penari Wadian Bawo Sanggar KOMANDAN dan Sanggar GARANTUNG menari bersama mahasiswa prodi seni tari di Pendopo Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta
Kesempatan yang diberikan salah satu Dekan di ISI dimanfaatkan dengan baik oleh Sanggar KOMANDAN dan GARANTUNG untuk berbagi dengan para akademisi di kampus ini. Dari mahasiswa hingga dosen turut serta dalam kegiatan mengenalkan seni dan budaya Dayak Ma'anyan khususnya seni tari dan musik. 

Penampilan
Rangkaian kegiatan ini dibuka dengan nanrik nampak atau lebih populer dengan nama tari giring-giring, beberapa mahasiswa turut terlibat menari dengan ganggereng dan gantar ditangan mereka. Beberapa terlihat sungkan namun ada pula yang antusias mengikuti gerak penari sanggar KOMANDAN, kurang lebih hampir 30 menit mereka menari bersama.
Mahasiswa/i prodi tari ISI bersama Penari sanggar KOMANDAN nanrik nampak

Kegiatan dilanjutkan dengan penampilan tari dengan judul "Nyampan Banawa" yang sebelumnya dipertunjukan pada malam pembukaan Pekan Seni dan Budaya Dayak Kalimantan (PSBDK) ke XII beberapa hari sebelumnya. Namun dilakukan sedikit perubahan dengan memasukan tari Dadas kedalam penampilan kali ini.
Penampilan "Nyampan Banawa"
Diskusi
Usai penampilan dilakukan pula diskusi singkat dengan para akademisi di pendopo ini dengan fasilitator Himpunan Mahasiswa Jurusan Tari (HMJT). Beberapa pertanyaan dilontarkan mahasiswa yang hadir seputar penampilan baik dari segi kostum, musik, hingga gerak tari yang ditampilkan. Pertanyaan seperti apakah gelang wadian bisa digunakan sebagai aksesoris sehari-hari, hingga pertanyaan apakah gerak wadian bulat adalah gerak pakem tradisi. 

Diskusi dan tanya jawab berlangsung kurang lebih setengah jam, bergantian ketua dan sekertaris sanggar KOMANDAN menjawab pertanyaan para mahasiswa dari prodi tari dan etnomusikologi yang hadir. penjelasan mengenai gerak pakem hingga jenis dan nama papaluan dipaparkan dengan singkat dan jelas. Beberapa kali pula musik dibunyikan sesuai dengan namanya, namun karena singkatnya waktu tidak semua dapat dijelaskan dengan terperinci hanya garis besar saja. Namun d hal ini akan memancing rasa penasaran para akademisi untuk turun langsung kedaerah asal musik dan tari ini untuk mengkajinya.
diskusi
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto foto foto fotooooo.... seperti biasa :)
Bersama Dekan

Bersama Dosen

Bersama Plang ISI
Bonus bersama bintang hehehehheee
Tiada panggung megah, gemerlap sorot lampu, kursi penonton yang sesak, tanpa aturan baku, dan deretan tamu kehormatan, hanya sekumpulan orang duduk lesehan dibawah naungan pendopo sederhana jauh dari hiruk pikuk kota yogyakarta. Berbagi bersama menikmati seni dan budaya, inilah kami yang sedang berbagi kalau bukan kita siapa lagi, amung puang takam hie lagi. Salam budaya (Bo)

..

Komunitas Anak Dayak Maanyan (KOMANDAN) jln. Nnsarunai RT.V dabung (depan RSUD Tamiang Layang), Kabupaten Barito Timur, contact personne : (ebbi)+6285249537058 PIN BB: 27011fe5 (Alfirdaus) +621351946584 e-mail komandan_maanyan@yahoo.com komandanmaanyan@gmail.com