Komunitas Anak Dayak Maanyan (KOMANDAN) jln. Nansarunai RT.V, dabung (depan RSUD Tamiang Layang), Kabupaten Barito Timur, contact personne : (ebbi)+6285249537058, PIN BB 27011fe5 (Alfirdaus) +621351946584 e-mail komandan_maanyan@yahoo.com komandanmaanyan@gmail.com

Jumat, 30 Oktober 2015

ADARO ETHNIC FESTIVAL "FESTIVAL KEANG" 2015


Hadiri dan ramaikan Pagelaran Tari Dayak Se Kalimantan dalam acara "ADARO KEANG ETHNIC FESTIVAL" yang akan dilaksanakan pada 30-31 oktober dan 01 nopember 2015 bertempat di Lewu Hante Desa Telang Siong, Kec. Paju Epat Kabupaten Barito Timur - Kalimantan Tengah. 
Lomba2 yg kami adakan :
1. Lomba Seni Tradisional (se- Paju Epat) dan Tangan Kreatif (se-Bartim)    CP. 082255448583 -Peno Vijarawan 
2. Lomba Band Ethnic (se-Bartim)              CP. 08125198140 - Indre hendratno
3. Lomba Fashion show ethnic (se-Bartim) CP. 085245294045 - Robert alexander
4. Lomba Fotografy (dibuka utk umum)      CP. 085248457510 - Dede almustaqim
5. Pagelaran Seni Tari (se- Kalimantan)     CP. 081348749949 - Lidya Kristina.


Sponsored by: PT. Adaro Indonesia
Presented by : Sanggar KOMANDAN (Komunitas Anak Dayak Maanyan)
Supported by : APERTUR dan ADWINDO Bartim.
seluruh masyarakat Desa Siong dan Telang...
explore our magical land of nansarunai....

Senin, 29 Juni 2015

Penganut Kaharingan yang meninggal

Tata Cara Pelaksanaan Kematian Kaharingan Paju Epat, sesaat setelah meninggal dunia.


Saat seorang yang beragama Kahariangan di Paju Epat meninggal maka yang pertama dilakukan pihak duka adalah memandikan jenazah, selesai dimandikan letakkan alas berupa tikar anihing(apabila ada) tetapi bila tidak ada boleh tikar yang lain. Pakaian lengkap dikenakan pada jenazah tersebut, setelah itu masukkan "lumiang panapen" ke dalam mulut jenazah. Iris kain dari 7 pakaian pelengkap yang pernah dipakai semasa hidupnya sebanyak 1 irisan tiap pakaiannya. Tawasan tutup hati diisi dengan 7 iris kain tadi, 7 manik lumiang ayat hidup panak, 1 butir telur ayam, tipak pisis giling pinang, sedikit uang lalu tawasan diletakkan di atas ulu hati mayat tersebut. Tangan mayat diletakkan di atas tawasan tersebut. jempol kanan diikat dengan jempol kiri, begitu pula jempol kaki, pergelangan tangan dan lutut juga di ikat. yang harus di ingat dipasangkan cincin "tunyuk hari" pada jari tengah. Dagu diikat sampai atas kepala dan kembali di ikatkan dibawah dagu. 7 iris kain pakaian tadi di gumpalkan untuk menutup lubang telinga kiri kanan dan lubang hidung, irisan kain diletakkan di atas mulut dan kedua mata, baru diletakkan koin ringgit(uang jaman dulu) diatasnya. apabila tidak ada bisa di gunakan koin yang lain.

Letakkan Bahalai(kain panjang) di atas mayat tadi, lalu kain Sinai Sarumang Mantel diletakkan dari arah pundak sebelah kanan ke arah pinggang sebelah kiri apabila yang meninggal adalah perempuan dan apabila laki-laki dari pundak kiri ke arah pinggang kanannya. Hal ini dilakukan karena Tabak Panganan diletakkan di sebelah kiri apabila perempuan dan Tabak Panganan di sebelah kanan apabila laki-laki.  Setelah itu kencangkan benang biasa dan benang nganyu. Apabila yang meninggal laki-laki keris dan mandau diletakkan sebagai cirinya. Setelah itu Dadining disiapkan ditelungkupkan, Hanram, lalangit dibuat dan di atur sedemikian rupa posisinya berada di atas mayat. jadinya seperti ruangan khusus tempat mayat tersebut berada.

Setelah tangan dicuci, barulah membunyikan gong yang tujuannya sebagai pertanda ada berita kematian.Gong dipukul sebanyak 3kali menghadap arah matahari terbit maksudnya untuk memberi tahu kepada Sang Penguasa Alam, ke arah matahari matahari terbenam maksudnya kepada roh-roh orang yang sudah meninggal terdahulu supaya dapat menemani/memangku roh orang yang baru meninggal tadi dan dipukul kearah kiri dan kanan yang bertujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat luas dan keluarga. Yang perempuan menangisi mayat tersebut, setelah semua selesai baru lah musyawarah dan mufakat untuk kelanjutan pelaksanaan pengurusan kematian hari selanjutnya. (eB)

Senin, 22 Juni 2015

Pandangan Adat tentang Polemik permainan LIO (adiau/arwah)

LIO yang artinya Adiau atau arwah, di Lawangan, Kampung Sapuluh dan Banua Lima di sebut dengan LIAU.
Dalam Kahiangan Wadian pada saat menyampaikan bahasa-bahasa ritual, ada beberapa kalimat yang menjadi referensi tentang mengapa adanya permainan LIO dalam proses Acara Ritual Kematian yang menurut hukum positif masuk ke dalam permainan judi. Sehingga permainan LIO ini menjadi suatu polemik yang belum mempunyai titik temu antara perspektif pandangan Adat dengan Aparat Penegak Hukum.
Adapun beberapa Kahiangan Wadian dan perspektif pandangan Adat:

  • KAPUPADU MATEI LULUHAN SUKAT LUMUN, HERE LIO MANANTULU ANRUWANEN MANUNTINEK LIO ITAK LIO KAKAH LIO DATU LIO NINI, LIO UMUN LIO PANAN LIO PADU MALULUHAN. Artinya: merupakan sebutan untuk Para Arwah yang telah mendahului kita, sanak family, keluarga dan leluhur,menghadap Tuhan.
Pandangan Adat : Permainan LIO hanya ada ketika upacara kematian, secara spontanitas ketika salah satu anggota keluarga ada yang meninggal sampai selesai penguburan, 7 hari, 40 hari, dan Upacara Ritual Ijame. Permainan LIO berlatang belakang dari orang Kaharingan yang saling berkaitan erat antara Adat dan Budaya serta Keyakinan Kepercayaan. Saling berkaitan dan tidak terpisahkan.
  • Pertanyaan Para Arwah pada saat perjalanan mereka di antar menuju sorga : INUN NGARAN ULUN KALA PUTUS KALA TINGKAH, KALA ARI KALA WIDI, KALA AMI KALA NGALAP, KALA BAYAR KALA TARIK, KALA JURUNG KALA HEPUT. Artinya : Para Arwah menanyakan apa yang dilakukan manusia diakhirat yang selalu tidak ada kepastian dan kesimpulan. di putuskan lalu dibatalkan kembali, dijual lalu di ambil kembali, dibeli ditarik kembali, didorong lalu ditarik kembali, tidak ada habis-habisnya. 
    • Jawaban KATINAWA NUNANG (Raja Adiau) yang mengiringi Para Wadian mengantarkan para arwah ke DATU TUNYUNG PULU GUHA MARI DANRA ULU (Sorga) : uuuuu..... ADA NAUN WAUH , YERU ADIAU ULUN MATEI MUNENG HANG UNENG PAMAINAN HAPUS PAMELUM NI. YERU PUANG IUH ALUT, HERE NA HUKUM DAYA HERE TAGINSIR LIO LABIH TEKA ATURAN ADAT. Artinya : uuuuu...... jangan heran karena itu arwah leluhur kita yang pada masa hidupnya selalu melakukan permainan judi sepanjang hidupnya yang melebihi aturan Adat Istiadat, sehingga mereka harus menanggung hukuman di akhirat nanti.
Pandangan Adat : Adat dan Agama melarang permainan LIO bukan pada tempatnya yang bersifat judi dan akan dikenakan pelanggaran dengan aturan Hukum Adat yang berlaku. Permainan LIO, WAJIB dilaksanakan karena ini sebagai simbol kelengkapan dalam Kahiangan. 
  • Kelengkapan Kahiangan : RARUBA RARAYUN, PANGUMA PANGUMUH, ETANG ANUI TUTUP MATE KUBUN WAWA SUPAL URUNG SEHENG SILU, KAWAN AMAS PAMUKAIAN MIRAH PANGUNRUTEN, WASI MANIK LUMIANG AYAT HIDUP PANAK, UTAS TUNYUK HARI, LEPET WUNUT RIMPU UME, MAKUTA MAUKAN KALA BAGI SIKAT KAWARIS, PANATAU PANUHAN, WEAH PAREI SASAP TANAMAN, KAYU KAYA JUMPUN HAKET, UMAT JAMAT MARGA SATUA, SIMBUL ULAH GAWI KIA KARAJA, IPURU MANYAWET, ANRAU IRAM SALUKI MATU, SUKUNG BANTU AWAT KARAWAH, HINRAI TAMIR TAMING DAHANG, SEPAK SINGKI BUTUR BUYANG
    • Penjelasan : Apapun yang kita miliki semasa hidup kita, kekayaan harta benda bahkan isi alam semesta serta keterampilan dan kemampuan aktifitas semasa hidup. baik buruknya akan disampaikan oleh Wadian dan persiapan serta kelengkapan lainnya di persiapkan oleh para Mantir dan Pisame. Apabila salah satu kelengkapan itu tidak dipenuhi maka akan terjadi Utang (denda adat) karena dalam Kahiangan Wadian tidak akan bisa melaksanakan dan menjalani Kahiangan apabila ada kekurangan dalam kelengkapan tersebut. 
Perspektif pandangan Adat secara umum :
Melihat dari sisi negatif bisa merusak Moral dan Etika, Norma-norma Agama, pelanggaran Hukum Adat, tatanan keluarga, rumah tangga, dan kehidupan bermasyarakat. Terlebih bertentangan dengan Hukum Positif yang berlaku di NKRI.
Namun secara keseluruhan, kearifan lokal yang selalu dipegang teguh masyarakat adat sangat tersirat dalam proses acara Ritual tersebut yang mana dalam prosesi kahiangannya menggambarkan penjelasan tentang perbedaan - perbedaan prilaku dan perbuatan manusia selama hidupnya. Pemahaman, keyakinan dan kepercayaan yang mengajarkan manusia mampu memilah mana yang baik dengan yang buruk dan mana yang benar dengan mana yang salah. Dari perkataan dan perbuatan akan dipertanggung jawabkan oleh manusia baik di dunia maupun akhirat.
Partisipasi dan kerjasama, saling menghargai dan menghormati, saling memberi dan menerima merupakan kearifan budaya lokal yang secara garis besar sangat jelas terlihat pada seluruh rangkaian acara mulai dari awal sampai berakhir. Sukung Bantu hinrai tamir, raruba raruyan panguma pangumuh, tantulu rariu merupakan pemberian semangat, ketabahan, kesabaran, kerelaan dan keikhlasan, memberikan kontribusi saran pemikiran perkataan, moril maupun materil kepada keluarga pelaksana acara kematian tersebut.  (di tulis oleh Damang Paju Epat, berdasarkan dengar pendapat dari tokoh-tokoh adat, mantir-mantir adat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan wadian pelaksana ritual. Selanjutnya disunting oleh eB)

Di satu sisi permainan LIO wajib dilaksanakan sebagai kelengkapan kahiangan, di sisi lainnya hukum positif NKRI memandang itu suatu pelanggaran hukum karena berbau judi. Tatanan dan tindakan yang tegas dalam aturan adat memungkinkan tidak adanya pelanggaran adat yang sengaja dibuat-buat mengatasnamakan adat. (eB)
  

Jumat, 19 Juni 2015

Paju Epat dalam perjalanan sejarah Hukum Adat dan silsilahnya

Lewu Hante di Kecamatan Paju Epat
SEJARAH HUKUM ADAT PAJU EPAT

Mulai alam wung wang dunia kaus kukus tane malumamak hena tipak silau, langit makumajang hena tipak daram.
Hindia belakang tane pitukangan kayu abun balas, pindah ke lalung kuwung banua langai langit. ke gunung madu dapa, gunung madu manyan, pupur parumatung, sida matung, tumpuk sigumpulan lilikumeah patah mulung sasuratan, 
Hindia muka, pindah ke batang helang ranu Banjarmasin Kayu Tangi, kemudian ke Sani Sarunai taliku ngamang talam di Daerah Amuntai, kemudian Candi Agung Candi Laras, Candi Mua Dangka Amu, Candi Munge Dangka Nangkai, Kupang sunung danau kien, Baras ruku tuntang alu, Bakumpai hanyar banua lawas, Danau halaman. 
Perpisahan Uria Pitu (7) ; Uria Pulang Jiwa ke Kapuas Kahayan, Uria Rena ke Kampung sepuluh banua lima, Uria Magal ke Paku Karau, Uria Birang ke Dayu, Uria Rantau ke Margasari, Uria Puneh ke Rayu Lawangan dan Uria Damung Napulangit ke Paju Epat.
Di Paju Epat : 
Uria Napulangit di Tampulangit, 
Patis Nalayuda di Bahanra, 
Singalanggawa ke Kaliwen,
Patis Wasa Gunting ke Renga, 
Jayang Panai ke Bangkungan
Patis Upus ke Sangal
Sota Baya ke Awang
Patingi Baris ke Telang
Damang Garip ke Siong
Singa Ganti ke Maipe
Bayan Tuha ke Kararat
Patis Mayung ke Balawa
Tamanggung Singanglangit ke Tutui
Tamanggung Jaga Ude ke Maijeng
Patis Mayung ke Murutuwu

Masing- masing membawa Hukum Adat yang telah diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun

Nama tokoh-tokoh terdahulu di Kaharingan Paju Epat :
  • Manusia Pertama Adam dan Hawa atau yang disebut dengan Kakah Warikung dan Itak Ayan,
  • kemudian Inang Ine, 
  • Etuh Mula Jadi, 
  • Kakah Rumpiang Agung, 
  • Itak Biso, 
  • Itak Mule, 
  • Idang Jawa, 
  • Datu Sigumpulan dan Dara Sigumpulan, 
  • Tuan Upu, 
  • Tuan Nune, 
  • Tuan Nyadi, 
  • Tuan Nyare, 
  • Tuan Nampa, 
  • Tuan Ragisik, 
  • Kapupadu Ape Luluhan Dayang Silu, 
  • Ape Tanru Manu, 
  • Ape Jalang Rahu, 
  • Ape Siangan Langit, 
  • Ape Kataningan Wawe, 
  • Ape Ngaduasa Pilu, 
  • Ape Iwulian Wawe, 
  • Ape Karengen, 
  • Ape Wadian Ame. 


Nama tokoh-tokoh di Hindia Belakang, Hindia Muka, di Watang Helang Ranu Banjarmasin Kayu Tangi dan di Sani Sarunai Taliku Ngamang Talam :
  • Datu Burungan
  • Umpit Wuyung
  • Tamiang Raja
  • Papantung Raja
  • Urah Raja
  • Kakati Raja
  • Wunsiang Raja
  • Patake Raja
  • Gumantar Wawei
  • Datu Puntahala Maleh
  • Damung Mantir Kaki
  • Datu Tataran Wulau
  • Datu Nuluh Wuman
  • Datu Bias Layar
  • Datu Dauh Langit
  • Datu Masialong
  • Datu Pujut Tatulisan
  • Datu Kamahing Langit
  • Damung Garinsingan
  • Damung Nyalawingan Apui
  • Damung Nyalawingan Ranu 
  • Damung Nyalawingan Tuwu
  • Nini Punyut
  • Mawunta Mula dan seterusnya sampai sekarang
"Acara Ritual Adat sangat identik dengan keyakinan dan kepercayaan yang mengandung unsur-unsur kesatuan persatuan dan kerukunan serta keharmonisan hubungan antara manusia dengan sang pencipta, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan alam." Damang Paju Epat, BATERIUS B.  (eB)


Jumat, 27 Maret 2015

Tabalong Ethnic Festival 2015

Penampilan Sanggar Seni dan Budaya "KOMANDAN" pada Tabalong Ethnic Festival IV
Tabalong Ethnic Festival IV merupakan festival budaya lokal Banjar dan Dayak yang diselenggarakan pada 11-14 Februari 2015 di Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan. Harmoni budaya banjar dan dayak ikut tampil dalam event yang bertema "Beauty of Tabalong" ini. Semua itu diwujudkan melalui karnaval, festival film budaya, panggung seni dan gelar budaya Dayak Deah Kampung Sepuluh.

Pada kesempatan ini, Sanggar Seni dan Budaya "KOMANDAN" (Komunitas Anak Dayak Ma'anyan) berkesempatan ikut serta meramaikan acara panggung seni. Bukan sebagai peserta, hanya menjadi salah  satu pengisi acara pada malam panggung seni.
Penampilan Sanggar Seni dan Budaya "KOMANDAN" pada Tabalong Ethnic Festival IV
Judul yang diangkat kali ini adalah "Alimu Pituah" yang artinya hmmmmmm......hmmmm.... penulis lupa hahahhahaa :p terserah ja. Penampilan berlangsung kurang lebih sepuluh menit, berbagai atraksi ditampilkan well cukup bersaing dengan atraksi menaiki batang berduri dari salah satu sanggar peserta.

 
salto dengan posisi tubuh setengah bulat let say it "half flexible somersault" terserah ku ja :p


Semoga sepanjang tahun 2015 ini masih banyak kegiatan yang dapat diikuti oleh Sanggar Seni dan Budaya KOMANDAN untuk tetap eksis melestarikan seni tari gelang bawo dan dadas. Amun Puang Takam Hie Lagi Kalau Bukan Kita Siapa Lagi. (bo)

nb.Bonus kostum Karnaval Budaya
Karya Veno Vijrawan Otodidak

Rabu, 03 Desember 2014

Renovasi Rumah Hantu KOMANDAN

Renovasi Rumah Hantu KOMANDAN.......
wadah pengorbitan Artis 3 seribu....

Pembersihan Lahan Sanggar

Pembangunan
tahap I beratap rumbia beralaskan tanah
Tahapan pertama mewujudkan mimpi Sanggar seni dan budaya KOMANDAN memiliki bangunan tempat berlatih sudah terwujud. Hal ini dapat terlaksana dengan bantuan berbagai pihak yang bersedia membantu we know who, dan bukan hanya berjanji  ehemmm... hemmmm... we know who.

Semenisasi :) renovasi I
Dindingnisasi :p renovasi I
Peningkatan kualitas bangunan juga atas sumbangsih pihak tertentu we know who juga lah, jadi para anggota sanggar tidak lagi berkutat dengan kaki2 kotor bila berlatih.

Penggantian atap Renovasi II
Renovasi II beratapkan Seng Sing Senggggg :)
Renovasi tahap kedua juga masih hasil sumbangsih pihak ketiga we know who and why, penggantian atap ini sangat tepat mengingat cuaca yang mulai masuk musim penghujan. Seluruh anggota dan pengurus sanggar seni dan budaya KOMANDAN sangat mensyukuri peningkatan dan perbaikan ini. Tidak lupa pula mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang membantu kemajuan sanggar KOMANDAN. 

Semoga kedepannya semakin banyak pihak yang bergabung untuk mendukung kemajuan sanggar KOMANDAN serta turut berperan serta menjaga dan melestarikan budaya dayak Maanyan.  
Amun Puang Takam Hie Lagi/ Kalau bukan Kita Siapa Lagi. Salam Budaya. (bo)

note : Untuk peningkatan fasilitas fisik selanjutnya mungkin lebih fokus kepada pemasangan aliran listrik, sebab tanpa penerangan seluruh aktifitas di sanggar ini terbatas hanya hingga matahari terbenam saja. Adapun mimpi yang lebih jauh memiliki lahan sendiri.

Rabu, 26 November 2014

BERBAGI

Berbagi, kalimat sederhana namun tidak semua orang mampu melakukannya dengan berbagai macam alasan. Malu mungkin atau merasa tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk dibagi namun sesungguhnya sekecil apapun hal yang kita bagi akan memiliki manfaat bagi orang yang menerimanya.
Penari Wadian Bawo Sanggar KOMANDAN dan Sanggar GARANTUNG menari bersama mahasiswa prodi seni tari di Pendopo Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta
Kesempatan yang diberikan salah satu Dekan di ISI dimanfaatkan dengan baik oleh Sanggar KOMANDAN dan GARANTUNG untuk berbagi dengan para akademisi di kampus ini. Dari mahasiswa hingga dosen turut serta dalam kegiatan mengenalkan seni dan budaya Dayak Ma'anyan khususnya seni tari dan musik. 

Penampilan
Rangkaian kegiatan ini dibuka dengan nanrik nampak atau lebih populer dengan nama tari giring-giring, beberapa mahasiswa turut terlibat menari dengan ganggereng dan gantar ditangan mereka. Beberapa terlihat sungkan namun ada pula yang antusias mengikuti gerak penari sanggar KOMANDAN, kurang lebih hampir 30 menit mereka menari bersama.
Mahasiswa/i prodi tari ISI bersama Penari sanggar KOMANDAN nanrik nampak

Kegiatan dilanjutkan dengan penampilan tari dengan judul "Nyampan Banawa" yang sebelumnya dipertunjukan pada malam pembukaan Pekan Seni dan Budaya Dayak Kalimantan (PSBDK) ke XII beberapa hari sebelumnya. Namun dilakukan sedikit perubahan dengan memasukan tari Dadas kedalam penampilan kali ini.
Penampilan "Nyampan Banawa"
Diskusi
Usai penampilan dilakukan pula diskusi singkat dengan para akademisi di pendopo ini dengan fasilitator Himpunan Mahasiswa Jurusan Tari (HMJT). Beberapa pertanyaan dilontarkan mahasiswa yang hadir seputar penampilan baik dari segi kostum, musik, hingga gerak tari yang ditampilkan. Pertanyaan seperti apakah gelang wadian bisa digunakan sebagai aksesoris sehari-hari, hingga pertanyaan apakah gerak wadian bulat adalah gerak pakem tradisi. 

Diskusi dan tanya jawab berlangsung kurang lebih setengah jam, bergantian ketua dan sekertaris sanggar KOMANDAN menjawab pertanyaan para mahasiswa dari prodi tari dan etnomusikologi yang hadir. penjelasan mengenai gerak pakem hingga jenis dan nama papaluan dipaparkan dengan singkat dan jelas. Beberapa kali pula musik dibunyikan sesuai dengan namanya, namun karena singkatnya waktu tidak semua dapat dijelaskan dengan terperinci hanya garis besar saja. Namun d hal ini akan memancing rasa penasaran para akademisi untuk turun langsung kedaerah asal musik dan tari ini untuk mengkajinya.
diskusi
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto foto foto fotooooo.... seperti biasa :)
Bersama Dekan

Bersama Dosen

Bersama Plang ISI
Bonus bersama bintang hehehehheee
Tiada panggung megah, gemerlap sorot lampu, kursi penonton yang sesak, tanpa aturan baku, dan deretan tamu kehormatan, hanya sekumpulan orang duduk lesehan dibawah naungan pendopo sederhana jauh dari hiruk pikuk kota yogyakarta. Berbagi bersama menikmati seni dan budaya, inilah kami yang sedang berbagi kalau bukan kita siapa lagi, amung puang takam hie lagi. Salam budaya (Bo)

Selasa, 25 November 2014

mengukir langkah di kota jogja





Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu, Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu


Demikianlah penggalan lagu Yogyakarta yang dinyanyikan oleh Katon Bagaskara membuat hangatnya ingatan akan suatu catatan kenangan yang baru-baru saja dirasakan oleh Sanggar KOMANDAN di Kota Gudeg tersebut.

Kehadiran KOMANDAN di Yogyakarta ini atas ajakan kerjasama dari sanggar di Palangka Raya yaitu BATARING ART dan Sanggar GARANTUNG, dalam hal ini sebagai utusan Dewan Adat Dayak Kalimantan Tengah.
Kolaborasi 3(tiga) sanggar ini dalam rangka mengisi acara Pembukaan dan Penutupan Pesta Seni Budaya Dayak Kalimantan ( PSBDK ) ke XII di Yogyakarta yang dilaksanakan pada tanggal 6-8 Nopember 2014. Terkhusus untuk penampilan Sanggar KOMANDAN sendiri didaulat pada malam seni pertama dengan membawa judul tarian NYAMPAN BANAWA. 
Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardja Soemantri (Purna Budaya) UGM niscaya menggema dengan gelegar tetabuhan dan gemerincing bunyi gelang dipadu dengan suara Wadian yang menusuk ke dalam jiwa dan sanubari seiring sorak sorai riuhnya penonton sebagai tanda dimulainya rentetan acara PSDBK tersebut ....... hahahahahaha...... edisi lebay.......  BAAAAIIIIKKKK.....
Dibalik semua ke-lebay-an tadi,hehe, selama perjalanan ada beberapa point yang dapat dipetik dan bahan renungan bagi kita semua, bahwa sebuah ketulusan jiwa membentuk karya cipta rasa tanpa kenal lelah dengan kondisi apapun akan membuahkan ikatan emosi yang kuat, sebagai pondasi kebersamaan menuju gunung cita-cita. Keterbatasan bukan halangan, tuntutan profesionalitas jadi acuan perkembangan diri, serta rendah diri dan terbuka dalam kesederhanaan... Tatap dan genggamlah dunia dengan talenta mu KOMANDAN.... 

Baydewey.......... Thanks to.. BATARING ART, pimpinan dari Donny dan Reny PAUL yang memberikan kepercayaan kepada Sanggar KOMANDAN untuk bergabung dalam tim DAD Kalteng guna mendukung acara PSDBK di Yogyakarta. Tidak lupa buat Sanggar GARANTUNG yang juga bersama-sama terlibat, bukanlah akhir dari segalanya karena ini adalah awal langkah kebersamaan yang manis dalam menuju satu tujuan yang sama.. Amun dia itah eweh hinday.....
Tengkyu poolllllll........
Terkhusus buat Mahasiswa Kalteng di Yogyakarta yang tinggal di Asrama Kalteng Pakuningratan yang telah menyediakan tempat berteduh, Mahasiswa/i asal Bartim yang turut mendukung dan membantu, Ketua asrama yang merangkap tukang service kompor gas kita...hehe.. special thanks to ayink, atas kamar dan fasilitasnya yang pooooolllllll... Ela jera kas lah....hehe..( eB )


Kamis, 04 September 2014

HUT ke 5 Sanggar Seni dan Budaya "KOMANDAN" Komunitas Anak Dayak Ma'anyan


Happy Birthday KOMANDAN
28 Agustus 2014 genap 5 tahun sudah usia Sanggar Seni dan Budaya "KOMANDAN" bila dianalogikan seorang anak kecil yang sudah bisa berjalan bahkan berlari. Bila dihitung maka paling tidak sudah ada lima angkatan anggota sanggar ini. Beberapa generasi anggota KOMANDAN hanya bisa berdoa dari tempat-tempat yang berbeda dan jauh dari Barito Timur, agar KOMANDAN tetap jaya selalu. Kegembiraan dan euforia menyelimuti generasi-generasi baru, namun mereka juga memikul nama besar Sanggar ini. Well katanya sih mempertahankan selalu lebih berat dari pada membangun, but mari kita katakan memajukan bukan mempertahankan.

"Kebersamaan"
Penekanan makna kebersamaan agar rasa persaudaraan seluruh anggota komandan semakin erat selalu didengungkan pada setiap kegiatannya. Mendidik serta membentuk karakter para komandan-komandan kecil untuk mencintai seni dan budaya Maanyan secak dini menjadi tugas mulia dari sanggar ini. Lima tahun lamanya sudah Sanggar Komandan menempa anak-anak anggotanya, banyak yang bertahan namun banyak pula yang tidak sanggup mengikuti ritme dan keluar. Saat ini sanggar Komandan akan menjalani tahun ke 6 nya, serta memiliki banyak anggota baik baru, lama, aktif dan tidak. Semakin banyak anggota semakin berat tantangan bagi pengurus untuk mengkoordinir setiap anggotanya, disinilah peran setiap anggota sanggar untuk saling mengingatkan, memperhatikan, serta menjaga akar soliditas dan kebersamaan tetap terjaga. Peselisihan, pertengkaran dan perbedaan pendapat pasti akan terjadi namun hendaknya hal itu tidak mengikis rasa persaudaraan "KOMANDAN"


Penulis sebagai salah satu pengurus Sanggar Seni dan Budaya "KOMANDAN" hanya bisa melihat dari jauh dan tetap berharap yang terbaik untuk kemajuan Sanggar, anggota, pengurus serta kegiatan sanggar kedepan.(bo)
Spesial foto, yang duduk di motor itu Ketuanya :p



 

Selasa, 19 Agustus 2014

Hanai KOMANDAN

Sanggar Seni dan Budaya KOMANDAN (Komunitas Anak Dayak Ma'anyan) 
an recognition for Sanggar "KOMANDAN" from Noble Fondation


"Stand Pameran" 
Pengertian pameran adalah suatu kegiatan penyajian karya seni rupa untuk dikomunikasikan sehingga
dapat diapresiasi oleh masyarakat luas. 

Pameran merupakan suatu bentuk dalam usaha jasa pertemuan. Yang mempertemukan antara produsen dan pembeli namun pengertian pameran lebih jauh adalah suatu kegiatan promosi yang dilakukan oleh suatu produsen, kelompok, organisasi, perkumpulan tertentu dalam bentuk menampilkan display produk kepada calon relasi atau pembeli. Merunut dari pengertian ini maka Sanggar Seni dan Budaya "KOMANDAN" adalah kelompok/organisasi/perkumpulan yang menampilkan produk berupa jasa kepada masyarakat selaku pengguna jasa.
Melalui keikutsertaan KOMANDAN pada pameran HUT kabupaten Barito Timur diharapkan Sanggar ini mampu menunjukan eksistensi serta kepeduliannya terhadap kelestarian seni dan budaya Maanyan di Barito Timur.
Untuk pameran yang mereka ikuti kali kedua ini, KOMANDAN membangun "Hanai Komandan" yang berarti sangkar/kandang komandan. Maksudnya bukanlah sangkar atau kandang yang mengekang melainkan tempat untuk seluruh anggota KOMANDAN berkumpul.

Work hard
Selama dua hari beberapa anggota KOMANDAN berkerjasama untuk membangun stand pameran ini, kemudian dilanjutkan dengan menjaga stand ini selama 1 minggu. Dari pagi kembali ke pagi mereka bergantian menjaga serta melayani pengunjung yang datang, kegiatan tidaklah terlalu ramai dari pagi hingga sore, namun saat malam menjelang suasana menjadi berbeda.

 
Kegiatan menari Nanrik Nampak atau yang lebih dikenal dengan tari giring-giring setiap malam digelar di halaman Stand KOMANDAN, selain anggota sanggar, para pengunjung juga turut serta irarami atau bersenang-senang/bersuka ria menari disini.

Pada malam penutupan pameran, Sanggar Seni dan Budaya KOMANDAN juga membagikan doorprice bagi pengunjung yang menari di sini. Bentuk doorprice yang mereka berikan tidaklah mewah seperti mobil, motor, kulkas atau sepeda seperti stand lainnya namun yang utama Stand Komandan menyuguhkan hal berbeda. Selain mengajak pengunjung bersuka ria, diharapkan kegiatan mereka ini dapat merangsang setiap pengunjung untuk menyukai seni dan budaya Maanyan di Barito Timur.




Appreciation 
Dua lembar kain putih penuh tanda tangan dari pengunjung menunjukan besarnya antusiasme pengunjung datang ke stand KOMANDAN, dari anak-anak hingga orang tua.
Namun masih seperti tahun kemarin, KOMANDAN menjadi satu satunya Sanggar tari yang turut serta dalam pameran, ternyata hal yang mereka lakukan belum mampu menarik sanggar--sanggar lain di Barito Timur untuk turut memeriahkan kegiatan HUT Barito Timur. Ada sebersit harapan agar lebih banyak sanggar yang mau turut memeriahkan HUT bartim dengan mengikuti kegiatan pameran.(bo)

"AMUN PUANG TAKAM HIE LAGI" kalau bukan kita siapa lagi

Selasa, 05 Agustus 2014

SURAT PERJANJIAN PERKAWINAN MENURUT HUKUM ADAT DAYAK MA’ANYAN


SURAT PERJANJIAN PERKAWINAN MENURUT
HUKUM ADAT DAYAK MA’ANYAN
Pada hari ini ......... tanggal ....................................................................., kami masing—masing yang bertandatangan dibawah ini :
a.       Nama                                       :           ..................................
b.      Tempat Tanggal Lahir :           :           ..................................
c.       Anak laki-laki dari                  :           .................................
d.      Pekerjaan                                 :           .................................
Alamat                                       :           .................................
Selanjutnya dalam hal ini disebut PIHAK I (PERTAMA)
a.      Nama                                      :           .....................................
b.      Tempat Tanggal Lahir            :           ....................................
c.       Anak perempuan dari             :          ....................................
d.      Pekerjaan                                :           ....................................
e.      Alamat                                     :           ...................................
Selanjutnya dalam hal ini disebut PIHAK II (KEDUA)
Bahwa atas kehendak dan permintaan kami berdua serta dengan persetujuan Orang Tua/ Ahli Waris masing-masing pihak, sepakat untuk menyatukan hidup kami dalam Ikatan Perkawinan menurut Hukum Adat Dayak Ma’anyan, maka Pihak I (Pertama) bersedia memenuhi dan menyerahkan Hukum Adat Pangantanean/ Peminangan dan Hukum Adat Perkawinan kepada Pihak II (Kedua), dan pihak Kedua menerimanya dalam keadaan baik, cukup dan lengkap sebagaimana barang-barang dibawah ini :

I.                    HUKUM ADAT PANGANTANEAN/PEMINANGAN
1.      Watuan Pangantanean sebesar Rp. ...................,- (...................................).
2.      Pakaian Hindra Mindri yakni seperangkat pakaian perempuan.
3.      Dua (2) bingkai cincin dari emas murni.

II.                  HUKUM ADAT PERKAWINAN
1.      Kaagungan Mantir 9 kiping diuangkan senilai Rp. 108.000,- (Seratus Delapan Ribu Rupiah).
2.      Hukum Kabanaran sebesar 12 Kiping diuangkan senilai Rp. 144.000 (Seratus Empat Puluh Empat Ribu Rupiah).
3.      Jujuran berupa sebidang Tanah dengan ukuran .....x......terletak di Jl...................Kota ................. (SKT Terlampir).
4.      Pangindaran Harung sebesar 3 Real diuangkan senilai Rp. 12.000,- (Dua Belas Ribu Rupiah).
5.      Lanyung Umme Petan Gantung sebesar 3 Real diuangkan senilai Rp. 12.000,- (Dua Belas Ribu Rupiah).
6.      Lumah Giling Pinumpingan Tukat sebesar 3 Real diuangkan senilai Rp. 12.000,- (Dua Belas Ribu Rupiah).
7.      Tutup Huban parah kain berupa 1 (satu) Lembar Kain Panjang.
8.      Pangadiwai Pasur berupa 1 (satu) Lembar Kain Bahalai.
9.      Tutup Uwan berupa 1 (satu) Lembar Kain Hitam Panjang 2 (dua) meter.
10.  Turus Putut masing—masing pihak sebesar Rp. ................,- (........................).
11.  Watuan Ngasian, berupa perhiasan emas dipenuhi pada saat Ngampi Ganta Nantu.

III.                BIAYA PERKAWINAN
1.      Biaya perkawinan ditanggung bersama oleh Pihak Pertama dan Pihak Kedua (disiapkan satu bulan sebelum hari Perkawinan).
2.      Isi kamar pengantin ditanggung oleh PIHAK PERTAMA

IV.                PERJANJIAN PERKAWINAN
Selanjutnya kami (Pihak Pertama dan Pihak Kedua) yang dipersatukan dalam Ikatan Perkawinan menurut Hukum Adat Dayak Ma’anyan, dihadapan orang tua / ahli waris  dan para saksi mengikat diri dalam perjanjian sebagai berikut :
1.      Bahwa saya, (mempelai pria) mengambil (mempelai wanita) menjadi istri saya dan hidup berumah tangga dengannya, mencintai dan mengasihi, menyayangi serta tetap setia baik dalam suka maupun duka dan tidak akan menceraikan dia selama hidup saya.
2.      Bahwa saya (mempelai wanita) mengambil (mempelai pria) menjadi suami saya dan hidup berumah tangga dengannya, mencintai dan mengasihi, menyayangi serta tetap setia, baik dalam suka dan maupun duka dan tidak akan menceraikan dia selama hidup saya.
3.      Mengenai harta benda yang kami peroleh selama hidup berumah tangga menjadi hak bersama. Apabila salah satu pihak dari antara kami ada yang meninggal dunia, maka pengaturan harta benda tersebut kami sepakati dan ditetapkan sebagai berikut :
a.      Jika kami mempunyai anak, maka seluruh harta benda yang diperoleh selama berumah tangga menjadi hak milik pihak yang masih hidup dan hak milik anak-anak kami.
b.      Jika kami tidak mempunyai anak, maka harta benda yang diperoleh selama berumah tangga dibagi dua dan sama banyak, sebagian menjadi hak milik pihak yang masih hidup dan sebagian lagi menjadi hak milik orang tua/ ahli waris pihak yang meninggal dunia.
Bilamana kami berdua meninggal dunia, maka pengaturan harta benda tersebut ditetapkan sebagai berikut :
a.      Jika kami mempunyai anak, maka seluruh harta benda yang diperoleh selama berumah tangga dengan sendirinya menjadi hak milik anak-anak kami.
b.      Jika kami tidak mempunyai anak, maka kepemilikan harta benda yang diperoleh selama berumah tangga tersebut diatur berdasarkan Peraturan Perundang—Undangan yang berlaku.
Apabila dikemudian hari di dalam berumah tangga terjadi perceraian, maka :
a.      Pihak yang bersalah menyebabkan perceraian dikenakan sangsi membayar denda dengan membayar kepada pihak yang tidak bersalah dengan uang tunai sebesar Rp. 30.000.000,- (Tiga Puluh Juta Rupiah) dan mengganti seluruh biaya perkawinan yang telah dikeluarkan oleh pihak yang tidak bersalah, kecuali mas kawin (Jujuran) tetap menjadi hak milik Pihak Kedua.
b.      Apabila sengketa perceraian diantara kami berdua tidak dapat diselesaikan dan diputuskan melalui musyawarah mufakat keluarga/ ahli waris dan mantir pengulu/ tueh adat, maka sengketa perceraian diajukan ke Pengadilan Negeri setempat untuk menetapkan keputusannya.
4.      Perkawinan ini dikukuhkan dengan Pemberkatan dan Peneguhan Nikah menurut Peraturan Tata Cara Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) serta Pencatatan Sipil sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Perkawinan.

Demikian Surat Perjanjian Kawin Adat ini kami buat dan ditanda tangani di atas kertas bermaterai Rp. 6.000,- bersama Orang Tua kedua belah pihak dan Saksi-Saksi serta diketahui oleh Pengurus Kerukunan Warga Dusun Ma’anyan dan Lawangan Kota ..................serta Damang Kepala Adat Kecamatan Jekan Raya. ...........................

                            KAMI BERDUA YANG BERJANJI :

               PIHAK I (PERTAMA)                                                             PIHAK II (KEDUA)


       (nama)                                                                                        (nama)
        ORANG TUA PIHAK II (PERTAMA)                                      ORANG TUA PIHAK II (KEDUA)

                      (nama)                                                                                        (nama)
           SAKSI PIHAK I (PERTAMA)                                                     SAKSI PIHAK II (KEDUA)
1.     Nama                                                                                 1. Nama
2.     Nama                                                                                 2. Nama
MANTIR ADAT YANG MENIKAHKAN:
1.      ……………………………
2.      ……………………………
3.      ……………………………

                                                                MENGETAHUI :

     PENGURUS KERUKUNAN WARGA DUSUN                                  DAMANG KEPALA ADAT
MA’ANYAN DAN LAWANGAN (...............)                                                KECAMATAN(.................)
KETUA UMUM           

                                 Nama                                                                                          Nama
(bo)

..

Komunitas Anak Dayak Maanyan (KOMANDAN) jln. Nnsarunai RT.V dabung (depan RSUD Tamiang Layang), Kabupaten Barito Timur, contact personne : (ebbi)+6285249537058 PIN BB: 27011fe5 (Alfirdaus) +621351946584 e-mail komandan_maanyan@yahoo.com komandanmaanyan@gmail.com